Senin, 19 Januari 2015

Membentuk Generasi Sains Dalam Islam

Dr. Wendi Zaman (Direktur Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan)
Perkembangan dunia sains dan teknologi tidak bisa dipisahkan dari sejarah yang pernah ditorehkan kaum intelektual Muslim pada masa kejayaannya, seperti al-Farabi, ar-Razi, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, dan Imam Ghazali. Mereka adalah cendekiawan Muslim yang banyak berpengaruh dalam kemajuan ilmu filsafat, sains, dan teknologi.
Bahkan, kemampuan para ulama terdahulu ini tidak hanya menguasai ilmu agama, tapi juga ahli dalam ilmu fisika, matematika, dan kedokteran, sehingga kendali peradaban dunia berada pada tangan umat Islam (golden age).
Namun, masih banyak pihak yang sangsi dengan keberadaan sains Islam. Generasi Islam saat ini terputus dengan karya-karya ilmiah ulama terdahulu karena terbatasnya informasi dan gencarnya arus informasi dari Barat yang sekuler. “Kita ini terputus dengan sejarah. Kalau kita lebih intens menggali, mungkin akan ada perkembangan lebih baik.,” ujar Dr. Wendi Zarman.
Berkenaan dengan tema membentuk generasi ulama intelek, wartawan Majalah Gontor Ahmad Muhajir berkesempatan mewawancarai Dr. Wendi Zaman, Direktur PIMPIN (Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan) Bandung. Ia mengulas sosok Fakhruddin ar-Razi, islamisasi sains, kemajuan sains yang berorientasi makrifatullah, dan tantangan ilmuwan Muslim saat ini. Berikut petikan wawancaranya:
Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari sosok Fakhruddin Ar-Razi?


Beliau salah satu ulama yang selain menguasai ilmu tafsir, fikih, ushul fikih, juga ahli fisika, matematika, dan medis. Dalam dunia kekinian, jarang ulama seperti ini. Beliau melahirkan kitab tafsir Mafatih al-Ghaybyang banyak mengangkat tema-tema sains, sampai ada yang mengkritik tafsirnya tidak kelihatan karena lebih banyak membahas ilmu sains.
Kita patut meneladani semangat beliau dalam hal mencari ilmu, mendalami ilmu agama, dan menguasai ilmu agama dan ilmu eksak. Salah satu kelemahan umat Islam sekarang, ilmu umum tidak terkuasai dengan baik. Kita cenderung memisahkan sains dan agama karena memang kita tidak punya karya yang nyata untuk mengembangkan hal itu. Akhirnya, kita hanya mengikuti apa yang berkembang di Barat.
Apa kekurangan sains yang cenderung sekuler?
Sains sekuler ini membawa misi tidak sesuai dengan fitrah manusia mengabdi kepada Allah. Sains sekuler justru membuat orang jauh dari Allah. Penekanannya pada aspek manfaat, lebih pada fungsi kehidupan duniawi, tapi tidak mengantarkan pada keimanan dan ketakwaan. Kalau kita lihat, umat Islam dulu membuat program sains, teknologi, dan penelitian sejalan dengan agama.
Contohnya, dulu yang sangat berkembang itu bidang astronomi. Pengembangan bidang astronomi ini bukan untuk mencari makhluk alien ada di mana, kehidupannya di ruang angkasa mana, tapi lebih untuk menentukan waktu shalat, datangnya penanggalan Ramadhan atau satu Syawal. Jadi, semangatnya bagian dari menunaikan perintah agama.
Di bidang kedokteran, semangatnya karena Allah menurunkan penyakit sekaligus menurunkan obatnya. Atau ilmu matematika dikembangkan untuk memudahkan perhitungan perdagangan atau ilmu waris (fara’id). Kalau sekarang, orang meneliti sains semangat agamanya hilang. Makanya, krisis spiritual itu terjadi karena semua bidang dilepaskan dari agama.
Apa yang mempengaruhi pengembangan sains saat ini lebih ke arah sekuler?
Ini bisa karena cara pandang Islamnya sudah terdikotomi atau terpecah bahwa ini urusan agama dan bukan agama. Ini bisa kita lihat sendiri dalam konsep pendidikan di Indonesia. Ada sekolah agama dan sekolah umum: sekolah umum sangat sedikit memberikan pendidikan agama dan sekolah agama sedikit memberikan pendidikan umum.
Ada semangat bagus di Kurikulum 2013. Misalnya, rumusan kompetensi pelajaran IPA disebutkan, dengan belajar sains murid-murid semakin beriman dan bertakwa kepada Allah. Semangatnya ada, tapi butuh waktu dan didukung ilmuwan Muslim untuk merumuskan kurikulum yang Islami. Itu salah satu yang kami upayakan di PIMPIN Bandung.
Bagaimana cara menanamkan nilai-nilai keimanannya?
Ini harus ada ilmuwan yang menelitinya. Harus membuat produknya, kontennya, buku teks, dan RPP-nya harus dipasok. Guru-guru punya semangat, tapi mereka tidak punya ilmunya. Saya kira itu tantangannya, dan itu butuh waktu.
Bagaimana masyarakat turut berpartisipasi melakukan penanaman nilai-nilai keimanan itu?
Masyarakat sebenarnya akan mengikuti apa kata ulama, pemimpin, dan ilmuwan. Sebaiknya ulama, ilmuwan, dan pemerintah ikut mengarahkan hal-hal yang religius sehingga dengan sendirinya masyarakat akan ke sana. Sekarang ini pemerintah cenderung menggratiskan sekolah-sekolah umum. Sekolah swasta yang berbasis Islam, meski secara finansial lebih mahal, tetapi berkembang pesat.
Ini menunjukkan bahwa animo masyarakat sangat tinggi terhadap sekolah-sekolah yang kental pendidikan agama. Sekarang orang mulai sadar dengan gagasan pendidikan karakter. Sebenarnya ada keresahan bahwa orang berilmu, pandai, tapi moralnya rusak, banyak tawuran. Ini indikasi bahwa orang tidak nyaman dengan situasi sekarang.
Problemnya, pendidikan karakter arahnya juga sekuler. Ilmuwan Muslim juga kalah cepat. Secara halus, paham pluralisme masuk ke buku-buku pendidikan. Saya pernah membaca buku pelajaran agama tentang imam: laki-laki menjadi imam laki-laki dan perempuan, perempuan menjadi imam perempuan, dan banci menjadi imam juga. Ini pluralisme halus yang tidak bisa diselesaikan pemerintah, kecuali ilmuwan Muslim proaktif.
Mengapa ilmuwan Muslim selama ini kalah cepat?
Karena cara pandang kita banyak yang bermasalah. Misalnya, sebagian ilmuwan Muslim sendiri menentang adanya unsur agama dalam Kurikulum 2013. Alasannya, agama tidak bisa dicampur ke dalam sains. Ranahnya berbeda dan mencampuradukkan agama itu akan merusak sains dan agama.
Bagaimana ilmuwan Muslim menjawab tantangan ini?
Kita perlu belajar sejarah karena ulama atau ilmuwan Muslim dulu sudah melakukan hal ini. Cuma kita tidak tahu semangatnya, konsepnya, dan worldview-nya. Maka penelitian sejarah ini sangat penting. Kita agak abai dengan sejarah. Kalau umat Islam bicara sejarah cenderung berhenti pada sirah Nabi atau sahabat. Bahkan, kita dirusak dengan pandangan sejarah Islam itu penuh pertumpahan darah.
Apa yang belum banyak digali dalam konteks sejarah sains Islam?
Karya ilmuwan Muslim ini seberapa banyak kita tahu. Kalau pun kita tahu masih permukaan saja. Misalnya, Ibnu Haitam itu ulama yang sangat brilian. Kita tidak tahu lebih luas kiprahnya seperti apa. Padahal, rumusan dia tentang cahaya banyak diadopsi ilmuwan Barat, seperti teori cahayanya Snellius.
Kita tidak tahu juga ilmuwan Muslim itu siapa saja. Tidak hanya Ibnu Sina yang ahli di bidang kedokteran, masih banyak lagi. Kita tidak punya akses terhadap sejarah ilmuwan Muslim, karyanya, dan menelaah apa yang sudah dilakukan. Padahal, bahan sains yang paling mutakhir pun pasti menggali dari sejarah.
Misalnya, ilmu mekanika yang berlaku sekarang,tetap tidak lepas dari ilmu mekanika Newton. Atau mekanika gerak planet dari Kepler, tetap ada di buku sains tentang planet. Kita ini terputus dengan sejarah. Kalau kita lebih intens menggali, mungkin akan ada perkembangan lebih baik.
Apakah tradisi keilmuwan ulama terdahulu yang mulai luntur?
Misalnya, rihlah ilmiah, berkelana memburu guru agama. Tradisi itu tetap penting, hanya bentuknya mungkin tidak seperti dulu. Karena dengan kemajuan teknologi, sekarang bisa dengan telekonferensi, email, skype, termasuk berkunjung ke luar negeri bisa menggunakan transportasi modern. Tantangannya, sekarang ini informasi beredar cepat dan validitasnya diragukan sehingga perlu hati-hati menerimanya.
PIMPIN Bandung melakukan penelitian-penelitian karya ulama sains sebagai upaya menyambung tali sejarah umat Islam yang terputus. Ini pekerjaan yang cukup panjang dan tidak bisa masuk penelitian sebelum paradigmanya diluruskan dulu. Makanya, peran worldview Islam sangat menentukan karena kalau tidak dipahami dengan baik akan masuk ke paradigma sekuler.
Mengapa pemahaman agama para ilmuwan harus diperbaharui?
Bagaimana mau menjadi ilmuwan Muslim kalau bahasa Arabnya saja tidak menguasai. Bagaimana mau menjadi ilmuwan Muslim kalau membaca al-Qur’an saja tajwidnya bermasalah. Sebab alam dan wahyu itu merefleksikan pesan-pesan Allah SWT. Pada akhirnya, semua ini harus mengantarkan kita pada makrifatullah, baik alam dan al-Qur’an.
Pengenalan makrifatullah ini akan lengkap kalau al-Qur’an dan alam berpadu menyatu. Misalnya, kita memahami kebesaran Allah dengan melihat alam. Allah berfirman dalam al-Qur’an bahwa alam adalah tanda-tanda keagungan Allah. Dan kita melihat kenyataan di alam ini memang seperti itu.
Oleh karena itu, tidak bisa ulama Muslim hanya mengerti sains, tapi tidak memahami al-Qur’an atau agamanya masih kurang. Kalau kita mau membenahi hal ini, pertama harus dibetulkan agamanya. Ilmu-ilmu dasar keislaman harus betul-betul dimantapkan dulu.
Apa konsekuensinya ketika kemajuan sains ini tidak berorientasi makrifatullah?
Konsekuensi di dunia akan terjadi kerusakan lingkungan karena orang terlalu bernafsu dan serakah. Agama mengerem hal itu. Bayangkan misalnya teknologi cloning ini berhasil tanpa nilai-nilai agama. Bagi orang yang tidak beragama cloning-cloning ini tidak masalah, padahal bisa merusak nasab. Termasuk orang akan menjadi skeptis dan hampa, meski secara ekonomi makmur, tapi mereka tidak tahu untuk apa materi yang banyak itu.
Konsekuensi di akhiratnya, apakah akan masuk surga atau ke neraka. Untuk itu, kita harus merancang pendidikan yang baik agar generasi ini menjadi lebih baik di masa mendatang. Pemerintah juga harus didakwahi. Bagaimana kita mau mencetak generasi ulama intelek jika sekolah-sekolah Islam dilarang dan pendidikan Islam dibatasi.
Apa tanggapan Anda dengan adanya Kompetisi Studi Islam dan Matematika Fakhruddin Ar-Razi Competition?
Saya kira ini ide yang sangat bagus. Alhamdulillah kalau melihat pesertanya tidak hanya di Indonesia, tapi juga sampai ke luar negeri sehingga perlu didukung dan ditindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan lain. Sekarang muncul dari Gontor dan KPM, nanti dari ormas Islam atau komunitas ilmiah lain yang berorientasi membentuk generasi ulama intelek.
Dengan kegiatan ini orang semakin memahami bahwa sebenarnya agama dan sains ini dua hal yang saling terkait, bukan melengkapi. Kita tidak bisa memisahkan keduanya. Secara tidak langsung, kompetisi ini akan membangkitkan semangat orang untuk belajar Islam. Ternyata belajar matematika dan sains itu sangat dekat dengan Islam. Diharapkan sains yang lain juga bisa muncul, seperti fisika, biologi, IPA.
Apa kegiatan PIMPIN saat ini?
PIMPIN Bandung melakukan kegiatan mengumpulkan karya-karya umat Islam terdahulu, seperti jam, kamera, dan lain-lain. Ide dasarnya, ingin menggali sejarah ulama, ilmuwan Muslim, dan karya-karyanya. Bagi sebagian orang bisa dianggap nostalgia, tapi bagi kami ini bagian dari penanaman kepercayaan diri, keyakinan terhadap prinsip-prinsip agama.
Islam saat ini hanya dipersepsikan dengan teroris, kemiskinan, dan perang. Padahal, ulama Muslim sangat maju pemikirannya, jauh melebihi ilmuwan Barat. Barat itu baru 100-200 tahun terakhir maju, sedangkan umat Islam sudah lebih dari 500 tahun unggul di dunia. Kalau ini dipahami, dampaknya akan luar biasa. Karena itu, sejarah penting untuk kita kenalkan kepada generasi Islam saat ini.
Apalagi situasi politik, arus liberalisasi, dan hal-hal ini sensitif yang banyak melibatkan umat Islam. Akibatnya, penelitian yang teratur, terukur dan berlanjut dari waktu ke waktu menjadi terlupakan. Semua orang sibuk meributkan masalah syi’ah, politik luar negeri, dan pemilu, kemudian melupakan pekerjaan ilmiah yang menuntut rutinitas dan ketekunan.
Padahal al-Qur’an menjelaskan, jangan semua orang pergi berperang. Harus ada orang yang menuntut ilmu agar mereka nanti bisa mengisi dan memberi pembelajaran kepada umat Islam. Kalau semua sibuk dengan perang pemikiran, politik, dan lain sebagainya, kalaupun menang harus diisi dengan nilai-nilai Islam, tapi tidak ada yang mengisinya.
Seperti ide khilafah Islamiyah. Kalau ini berdiri, sementara masyarakatnya tidak mengerti Islam, siapa yang akan menggantikan ulama Islam, siapa yang akan mengisi di bidang sains Islam. Kalau misalnya tidak ada, ya runtuh lagi! Saya tidak menyalahkan mereka, tetapi harus ada orang yang mendalami bidang ini supaya bisa mendidik masyarakat.
***
Dr. Wendi Zarman
Islamisasi Sains
Wendi Zarman menyelesaikan S-1 dan S-2 bidang Ilmu Fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sementara pendidikan S-3 diraih di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor dengan gelar doktor Pendidikan Islam yang ke-27 khusus bidang Islamisasi Sains. Dalam perjalanan akademiknya, Wendi menemukan banyak pengalaman tentang kerangka berpikir sains dan Islam.
Menurut Wendi, ada kesenjangan antara tujuan pendidikan nasional dalam UU Sisdiknas dan standar kompetensi yang ditentukan BNSP dalam mata pelajaran IPA dengan isi buku teks IPA di SMP. Secara ideal, isi buku teks harus mengarahkan siswa kepada pengenalan dan peningkatan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Faktanya, nama Tuhan hampir sama sekali tidak disebut dalam buku teks.
Karena itu, Wendi mengajukan tujuh metode penulisan buku teks IPA SMP yang mengarah kepada peningkatan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hasil kajian yang dilakukan PIMPIN Bandung menjelaskan, perkembangan dunia sains dan teknologi tidak bisa dipisahkan dari sejarah intelektual Muslim, seperti al-Farabi, ar-Razi, Ibnu Sina, dan Imam Ghazali. “Ketika itu kendali peradaban dunia berada pada tangan umat Islam,” ujarnya.
Ada banyak faktor-faktor pemicu kejayaan sains di dunia Islam, di antaranya kesungguhan mempraktikkan ajaran Islam, motivasi untuk menuntut ilmu, membaca, melakukan observasi, eksplorasi, ekspedisi, dan berpikir ilmiah rasional. “Faktor sosial dan politik juga sangat mendukung perkembangan budaya ilmu dan tradisi ilmiah,” ungkapnya.
oleh Muhajir
Source :  : http://majalahgontor.net/membentuk-generasi-sains-islam/